Kantorku tak lama lagi tampak di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi.
Tapi saya masih betah di atas kendaraan beroda empat ini.
Angin menerobos dari jendela.
Masih ada waktu bebas dua jam.
Kerjaan hari ini telah kugarap semalam.
Ketimbang suntuk membisu di rumah, tadi malam saya mengatasi kerjaan yang masih menumpuk.
Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang wewangian tubuhnya tercium.
Wewangian absah seorang wanita. Baunya memang agak lain, melainkan cakap membikin seorang bujang menerawang sampai jauh ke alam yang belum pernah dia rasakan.
Dik.., jangan dibuka lebar.
Aku dapat masuk angin. kata seorang wanita separuh baya di depanku perlahan.
Saya tersentak. Masih melongo.
Aku jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.
Tak..? kataku.
Ya itu.
Ya ampun, saya membayangkan bunyi itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih.
Keringatnya meleleh seperti yang kulihat kini.
Nafasnya tersengal. Seperti kulihat saat dia baru naik tadi, sesudah mengejar angkutan perkotaan ini sekedar untuk bisa sekelumit daerah duduk.Terima beri, ujarnya ringan.
Saya sesungguhnya berkeinginan ada sesuatu yang dapat diomongkan lagi, sehingga tak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga menonjol garis bukitnya.Aku juga tak menyukai angin cepat-cepat. - AGEN SABUNG AYAM
Tetapi aku gerah. meloncat seperti itu saja kata-kata itu.
Saya belum pernah berani bicara seperti ini, di angkutan perkotaan dengan seorang wanita, setengah baya lagi.
Jika sekarang saya berani pasti sebab dadanya terbuka, pasti sebab peluhnya yang membasahi leher, pasti sebab saya terlalu terbuai lamunan.
Dia bahkan melengos.
Beruntung. Lalu asyik membuka tabloid.
Beruntung. Saya tak bisa lagi memandanginya.
Kantorku telah terlewat.
Saya masih di atas angkutan perkotaan.
Perempuan paruh baya itu bahkan masih duduk di depanku.
Masih menutupi diri dengan tabloid.
Tak lama wanita itu mengetuk langit-langit kendaraan beroda empat.
Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.
Saya observasi dia semenjak bangkit sampai turun.
Empat bergerak perlahan, saya masih memandang ke arahnya, untuk menetapkan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu.
Dia tersenyum.
Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.
Dia kerja di sana? Atau ingin gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, beriringan masuknya kendaraan beroda empat lain di belakang angkutan perkotaan.
Beruntung. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.Bang, Bang kiri Bang..!
Segala penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?
Perlahan-perlahan suaranya kan dapat Dek, sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.
Saya membalik arah lalu berjalan kencang, penuh motivasi.
Satu dua, satu dua. Yes.., hasilnya.
Melainkan, tiba-tiba keberanianku sirna.
Apa katanya nanti? Apa yang saya seharusnya bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin segala.
Wajahku merah padam.
Lho, salon kan daerah biasa.
Segala orang bebas masuk asal punya uang.
Bodoh betul-betul.
Come on lets go! Langkahku motivasi lagi.
Pintu salon kubuka.
Selamat siang Mas, kata seorang penjaga salon, Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?
Massage, boleh. ujarku sekenanya.
Saya dituntun ke sebuah ruangan.
Ada sekat-sekat, tak tertutup sepenuhnya.
Tapi semenjak tadi saya tak memandang wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.
Ke mana dia? Atau jangan-jangan dia tak masuk ke salon ini, cuma pura-pura masuk.
Ah. Shit! Saya tertipu. Tetapi tak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke alam lain.
Dahulu saya paling anti masuk salon. Jika potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar.
Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu seperti itu besar merubah keberanianku.
Buka pakaiannya, celananya juga, ujar wanita tadi manja menarik hati, Nih pake celana ini..!
Saya disodorkan celana pantai namun lebih pendek lagi.
Bahannya tipis, namun baunya harum.
Garis setrikaannya masih menonjol.
Saya berdasarkan saja.
Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok.
Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya cuma muat tubuhku dan lebih sedikit.
Wanita muda itu telah keluar semenjak melempar celana pijit.
Saya tiduran sambil baca majalah yang tergolek di rak samping daerah tidur kecil itu.
Sekenanya saja kubuka halaman majalah.Tunggu ya..! ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan saat dia mendapatkan kedatanganku.
Mbak Winny.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruang sebelah. Saya terang mendengarnya dari sini.
Kembali ruangan sepi. Cuma bunyi kebetan majalah yang kubuka kencang yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak pletok pletok.
Makin lama makin terang.
Dadaku mulai berdegup lagi.
Wajahku mulai panas.
Jari tangan mulai dingin.
Saya makin membenamkan wajah di atas artikel majalah.
Halo..! bunyi itu mengagetkanku. Hah..? Bunyi itu lagi.
Bunyi yang kukenal, itu kan bunyi yang minta saya menutup kaca angkutan perkotaan.
Dadaku berguncang.
Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., saya cuma bisa menunduk, memandang kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu.
Betisnya mulus ditumbuhi bulu bulu halus.
Saya masih ingat sepatunya tadi di angkutan perkotaan.
Hitam. Saya tak ingat motifnya, cuma ingat warnanya.
Ingin dipijat atau ingin baca, ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, Ayo tengkurep..!
Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku.
Saya tersetrum. Tangannya halus. Dingin.
Saya kegelian merasakan tangannya yang berdansa di atas kulit punggung.
Lalu pijitan turun ke bawah. Dia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.
Dia menekannekan agak kuat.
Saya meringis membendung sensasasi yang waow..! Sekarang dia pindah ke paha, agak berani dia masuk sedikit ke selangkangan.
Saya meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tetapi belum seperti itu lama dia pindah ke betis.Balik badannya..! pintanya.
Saya membalikkan badanku. Lalu dia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Saya tak berani menatap wajahnya.
Saya memperhatikan ke arah lain mengindari adu tatap. Dia tak bercerita apa-apa.
Saya bahkan segan mengawali cerita. Dipijat seperti ini lebih sedap membisu meresapi remasan, sentuhan kulitnya.
Bagiku itu telah jauh lebih sedap ketimbang bercerita.
Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku diraba lagi, diremas, lalu dia menjamah betisku, dan selesai.Dia berlalu ke ruangan sebelah sesudah membereskan cream.
Saya cuma ditinggali handuk kecil hangat.
Kuusap sisa cream.
Dan kubuka celana pantai.
Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.
Di kantor, saya masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada peluh.
Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha.
Saya tak bendung.
Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu.
Supaya kejadian kemarin terulang.
Jam berapa saya berangkat.
Jam berapa seharusnya hingga di Ciledug, jam berapa seharusnya naik angkutan perkotaan yang penuh gelora itu.
Ah tak beruntung. Saya telat separuh jam.
Walaupun, wajah wanita separuh baya yang di lehernya ada peluh telah terbayang.
Tak gara-gara ibuku memerintah pergi ke rumah Tante Selly.
Bayar arisan.
Tak apalah hari ini tak ketemu.
Toh masih ada hari esok.
Saya bergegas naik angkutan perkotaan yang melintas.
Toh, si separuh baya itu pasti telah lebih dahulu tiba di salonnya.
Saya duduk di belakang, daerah unggulan.
Jendela kubuka.
Empat melaju.
Angin menerobos cepat sampai seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.
Mas Rendy.. hah..? bunyi itu lagi, bunyi wanita separuh baya yang kali ini sebab mendung tak lagi ada peluh di lehernya.
Dia tak melanjutkan kalimatnya.
Saya tersenyum. Dia tak membalas namun lebih ramah. Tak pasang wajah perangnya.
Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.
Aku kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, sebab dia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Saya kaprah saya telah telat untuk dapat satu angkutan perkotaan dengannya.
Atau jangan jangan dia juga diperintah ibunya bayar arisan.
Saya menyesal mengutuk ibu saat pergi.
Paling tak ada untungnya juga ibu memerintah bayar arisan.
Mbak Winny.., gumamku dalam hati.
Perlu tak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Winny menutupi wajahnya seperti itu.
Aku artinya dia tak ingin diganggu. Mbak Winny telah turun.
Saya masih termangu.
Turun tak, turun tak, saya hitung kancing.
Dari atas: Turun. Ke bawah: Tak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.
Ini kancing pakaian hanya tujuh?Hah, saya ada pandangan baru: toh masih ada kancing di komponen lengan, sekiranya belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga dapat.
Kini saja ketimbang repot-repot.
Anggap saja tiaptiap pakaian sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.
Melainkan hitung penumpang angkutan perkotaan dan supir.
Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore saya turun.
Tetapi eh.., seorang penumpang gunakan t-shirt oblong, mati saya.
Ah masa bodo. Pokoknya turun.Kiri Bang..!
Saya lalu menuju salon.
Alamak.., jauhnya.
Saya lupa kelamaan menghitung kancing.
Ya tak apa apa, hitung-hitung olahraga.
Hap. Hap.Ingin pijit lagi..? ujar bunyi wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.
Ya.
Lalu saya menuju ruang yang kemarin.
Melainkan telah lebih lancar.
Saya tahu di mana ruangannya.
Tak perlu ditemani.
Wanita muda itu meniru di belakang.
Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Winny, pasien menunggu, katanya.
Majalah lagi, ah tak saya seharusnya bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tak ada yang dapat didiskusikan.
Bunyi pletak pletok mendekat.
Ayo telungkup..! kata wanita separuh baya itu.
Saya telungkup.
Dia mengawali pijitan.
Kali ini lebih bertenaga dan saya memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.
Ia..! katanya.
Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya.
Paling tak saya bisa memandang leher yang berair peluh sebab kepayahan memijat.
Dia cukup lama bermain-main di perut.
Melainkan tangannya badung menelusup ke komponen tepi celana dalam.
Tetapi belum tersentuh kepala juniorku.
Sekali. Kedua kali dia memasukkan jari tangannya.
Dia menyenggol kepala juniorku.
Dia masih dingin tanpa ekspresi.
Lalu pindah ke pangkal paha.
Ah kenapa seperti itu kencang.
Jarinya mengelus tiap-tiap mili pahaku.
Ia Junior telah mengeras.
Betul-betul keras.
Saya masih penasaran, dia seperti tanpa ekspresi.
Tapi eh.., membisu-membisu dia mencuri pandang ke arah juniorku.
Lama sekali dia memijati pangkal pahaku.
Seakan sengaja memainkan Ia Junior.
Aku Ia Junior melemah dia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat ideal di komponen pangkal paha. - AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA
Lalu dia memijat lutut. Ia Junior melemah.
Lalu dia kembali memijat pangkal pahaku.
Ah sialan.
Saya dipermainkan seperti buah hati bayi.
Selesai dipijat dia tak meninggalkan saya.
Tetapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih merekat di tubuhku.
Saya duduk di tepi dipan.
Dia membersihkan punggungku dengan handuk hangat.
Aku menjangkau pantatku dia agak mendekat.
Bau tubuhnya tercium.
Bau tubuh wanita separuh baya yang yang meleleh oleh peluh.
Saya pertegas bahwa saya mengendus kuat-kuat wewangian itu. Dia tersenyum ramah.
Eh dapat juga wanita separuh baya ini ramah kepadaku.
Lalu dia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha.
Junior berdetak-detak.
Sengaja kuperlihatkan supaya dia bisa memandangnya.
Di balik kain tipis, celana pantai ini dia sesungguhnya dapat memandang arah turun naik Ia Junior.
Sekarang pindah ke paha sebelah kanan.
Dia ideal berada di tengah-tengah.
Saya tak menjepit tubuhnya.
Tetapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya.
Saya membayangkan bisa menjepitnya di sini.
Tapi, bayang-bayang itu terganggu.
Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan terang bolak-balik ke ruang pijat.
Dari jarak yang seperti itu dekat ini, saya terang memandang wajahnya.
Tak terlalu ayu. Hidungnya tak mancung melainkan juga tak pesek.
Bibirnya sedang tak terlalu sensual.
Melainkan tercium hidungku. Ah segar.
Payudara itu dari jarak yang cukup dekat terang membayang.
Cukuplah sekiranya tanganku menyergapnya.
Dia terus mengelap pahaku.
Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa.
Tetapi dia dingin sekali. Membuatku tak berani. Ciut.
Ia Junior tiba-tiba juga turut-ikutan ciut. Tapi, saya seharusnya berani.
Toh dia telah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.
Saya seharusnya, seharusnya, seharusnya..! Apakah perlu menhitung kancing.
Saya tak berpakaian sekarang.
Lagi pula percuma, tadi saja di angkutan perkotaan saya keok lawan kancing.
Saya seharusnya mengawali. Lihatlah, masak dia seperti itu berani tadi meraba kepala Junior dikala memijat perut.
Ah, sekarang dia bahkan berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.
Dia berlutut mengelap paha komponen belakang.
Kaki kusandarkan di tembok yang membikin dia bebas berlama-lama membersihkan komponen belakang pahaku.
Mulutnya persis di depan Junior cuma sebagian jari.
Inilah peluang itu. Ia tak akan datang dua kali.
Ayo. Tunggu apa lagi.
Ayo kencang dia hampir selesai membersihkan belakang paha.
Ayo..!Saya masih membisu saja.
Aku dia selesai mengelap komponen belakang pahaku dan berdiri.
Ah bodoh. Benarkan peluang itu melalui.
Dia telah membereskan kelengkapan pijat.
Tetapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.
Betulkan, dia tak akan datang seperti itu saja.
Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama bunyi sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, namun bodoh, bodoh, bodoh hingga bunyi itu sirna.
Saya cuma mendengus.
Aku nafas.
Sudahlah. Masih ada esok. Tapi tak lama, bunyi pletak-pletok terdengar kian nyaring.
Dari iramanya bukan sedang berjalan.
Tapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh.
Eh.., peluang, peluang, peluang.
Saya masih mematung. Duduk di tepi dipan.
Kaki disandarkan di dinding. Dia tersenyum melihatku.
Maaf Mas, sapu tangan aku tertinggal, katanya.
Dia mencari-cari. Di mana? Saya masih mematung.
Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti sapu-tangan.
Aku kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.
Dia berjongkok persis di depanku, seperti saat dia membersihkan paha komponen bawah.
Tak peluang kedua.
Tak akan hadir peluang ketiga.
Lihatlah dia tadi seperti itu teliti merapikan segala perlatannya.
Apalagi yang bisa ketinggalan? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan.
Ya, seseorang toh bisa saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan.
Melainkan itulah, tak akan hadir peluang ketiga.
Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! kataku memelas, ya sebagai alasan juga kenapa saya masih bertahan duduk di tepi dipan.
Dia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu membatasi pahaku, Yang mana..?
Yes..! Saya sukses. Tak.., kutunjuk pangkal pahaku.
Melainkan saja Sayang..! ujarnya.
Dia cuma mengelus tanpa daya.
Tetapi dia masih berjongkok di bawahku.
Yang ini atau yang itu..? katanya menarik hati, menunjuk Juniorku.
Darahku mendesir.
Juniorku tegang seperti mainan buah hati-buah hati yang ditiup melembung.
Keras sekali.
Jangan hanya ditunjuk dong, diatur boleh.
Dia berdiri.
Lalu meraba Junior dengan sisi luar jari tangannya.
Yes. Saya dapat peroleh dia, wanita separuh baya yang meleleh keringatnya di angkutan perkotaan sebab kepanasan.
Dia merabanya.
Kali ini dengan telapak tangan.
Tetapi masih terhalang kain celana.
Hangatnya, biar seperti itu, konsisten terasa.
Saya menggelepar.Sst..! Jangan di sini..! katanya.
Sekarang dia tak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku.
Lalu dikocok-kocok sejenak.
Saya membatasi teteknya. Bibirku menggilas bibirnya.
Jangan di sini Sayang..! katanya manja lalu melepaskan sergapanku.
Masih sepi ini..! kataku makin berani.
Kemudian saya merangkulnya lagi, menyiuminya lagi.
Dia merasakan, tangannya mengocok Junior.
Besar ya..? ujarnya.
Saya makin gigih, makin membara, makin terbakar.
Wanita separuh baya itu merenggangkan bibirnya, dia terengaengah, dia merasakan dengan mata terpejam.
Mbak Winny telepon.., bunyi wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.
Mbak Winny merapihkan bajunya lalu pergi menjawab telepon.
Ngapaian sih di situ..? katanya lagi seperti dengki pada Winny.
Saya mengambil pakaianku.
Ia saja saya memasang ikat pinggang, Winny menghampiriku sambil berkata, Telepon saya ya..!
Dia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.
Pasti terburu-buru. Saya seketika memasukkan ke saku pakaian tanpa mencermati nomor-nomornya.
Aku ada perubahan besar pada Winny.
Dia tak lagi dingin dan ketus.
Jika saja, tak keburu wanita yang menjaga telepon datang, dia telah menggilas Ia Junior.
Lihat saja dia telah setengah berlutut mengarah pada Junior.
Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Winny.
Dia mengambil tissue itu, sambil mendengar info berbahagia dari wanita yang menunggu telepon.
Dia cuma memperlihatkan diri setengah badan.
Mbak Winny.., saya ingin makan dahulu. Jagain sejenak ya..!
Ya itulah info berbahagia, sebab Winny lalu mengangguk.
Aku mengunci salon, Winny kembali ke tempatku.
Melainkan itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru saya saja.
Saya menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah.
Winny datang. Kami seperti tak berkeinginan buang waktu, melepas baju masing-masing lalu mengawali pergumulan.Winny menjilatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Saya merasakan kelincahan lidah wanita separuh baya yang tahu di mana spot-spot yang seharusnya dituju.
Saya terpejam membendung air mani yang telah di ujung.
Bergantian Winny sekarang tengadah.Pijit aku Mas..! katanya melenguh.
Kujilati payudaranya, dia melenguh.
Lalu vaginanya, berair sekali.
Dia membuncah saat saya menggilas klitorisnya.
Lalu mengangkang.
Saya telah tidak bendung, ayo dong..! ujarnya merajuk.
Aku kusorongkan Junior menuju vaginanya, dia melenguh lagi.
Ah.. tiga tahun, benda ini tidak kurasakan Sayang.
Saya cuma main dengan tangan.
-kadang ketimun.
Jangan dimasukkan dahulu Sayang, saya belum siap.
Ya kini..! pintanya penuh manja.
Tapi mendadak suara telepon di ruang depan berdering.
Kring..! Saya mengurungkan niatku. Kring..!
Mbak Winny, telepon. kataku.
Dia berjalan menuju ruang telepon di sebelah.
Saya mencontohnya.
Sambil menjawab telepon di bangku dia menunggingkan bokongnya.
Ya kini Sayang..! katanya.Halo..? katanya sedikit terengah.
Oh ya. Ya nggak apa-apa, katanya menjawab telepon.
Siapa Mbak..? kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.
Ia Reni, yang tadi.
ingin pulang dahulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih seperti itu, kata Winny.
Aku sebagian lama menyodoknya, Terus dong Yang.
Auhh saya ingin keluar ah.., Yang tolloong..! ia mendesah keras.
Lalu dia bangkit dan pergi secepatnya.
Yang.., kencang-kencang berkemas.
Sebantar lagi Mbak Mimi yang punya salon ini datang, umumnya jam segini ia datang.
Saya seketika beres-beres dan pulang.
Sahabat303 - Agen Sabung Ayam, Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Casino Online Terpercaya
- Bonus Deposit 10% (Khusus Sportbook) Setiap Harinya
- Bonus Deposit 10 % Khusus Tangkas Setiap harinya
- Bonus Cashback Sport Up To 16%
- Bonus Cashback Casino 2%
- Bonus Rollingan Casino 0.7%
- Bonus Cashback Sabung Ayam Up To 10%
- Bonus Referral 2% Seumur Hidup







0 komentar:
Posting Komentar