Home » » Kisah Nyata Perselingkuhan PNS

Kisah Nyata Perselingkuhan PNS

Written By Jessica Claurensia on Rabu, 01 April 2020 | April 01, 2020

AGEN BOLA TERPERCAYA Sebuah kisah seks dewasa yang dituturkan oleh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) perihal petualangan atau pengalaman seksnya yang luar dapat dengan seorang penari di Bali.

Menarik untuk kita baca sebagai sebuah pengalaman yang menggairahkan untuk dihasilkan bahan acuan ataupun fantasi seksual.

Berikut merupakan selengkapnya cerita dewasa seks PNS.

Tamasya Liburan Romantis Bali Perkenalkan Namaku Ramli seorang PNS, untuk kerahasiaan saya tak akan menuliskan tahun terjadinya momen ini dan nama absah.

Tapi cerita ini merupakan benar adanya.

Bulan November saya mencontoh prajabatan PNS, yah tidak ada yang kukenal di prajabatan ini, sebab itu saya berupaya untuk mencari sahabat sebanyak-banyaknya.

Pagi itu merupakan jam pertama, saya duduk di tempat duduk kelas komponen tengah, kulirik kiri dan kanan. tidak ada yang kukenal, tetapi ada satu yang menarik perhatianku, seorang gadis indah duduk tidak jauh dariku, ia tampak ramah dan senantiasa tersenyum, kulitnya sawo matang, tetapi bagiku ia menonjol yang paling indah di kelas. AGEN SABUNG AYAM

Ia lalu menyajikan diri.“Nama aku Sari, saya guru tari Bali, nama kau siapa? kok ngeliatin terus sih?”

Saya jadi salah tingkah, lalu saya menjawab,“Maaf ya mbok Sari, nama aku Ramli, abis ga ada yang diketahui sih…”

“Kini kan udah ketahui,emang usia kau berapa? kok manggil mbok”

“25 mbok, emang mengapa?”

“oh, emang bener kau manggil saya mbok, usia saya 28.”

“Oh…”

Sedangkan ia bilang umurnya 28 tetapi ia tak menonjol setua itu, posturnya lebih pendek dari saya dan badannya sintal.

Semenjak perkenalan itu kami acap kali ngobrol berdua pada waktu prajabatan selama 2 pekan itu, smsan dan telpon-telponan, ia juga acap kali ditengok sama cowok yang sama temen-temen saya dipanggil raksasa, Dedy bilang sih itu tunangannya, saya kesel juga tetapi apa kekuatan saya hanya dapat senyum, tetapi memang pada waktu itu saya belum menikmati apa-apa.

Pada waktu sehari sebelum penutupan ia bilang seperti ini,

“Ramli, nanti abis penutupan kita jalan-jalan yuk!?”

“ayuk”, kataku dengan bergembira hati, “emang berkeinginan kemana mbok?”

“yah, ke bioskop atau kemana gitu.”

“oke..”dikala itu tiba, saya dah siap-siap untuk penutupan dan tidak lupa saya membawa baju ganti, seperti itu selesai penutupan kami pergi ke bioskop, kami nonton dan sengaja memilih tempat duduk paling pinggir, entah mengapa saya mulai berpikiran kumal, lalu saya memeluk ia, ia tak menolak.

Lalu saya beranikan diri untuk mengecup ia, ia malahan menyambut ciumanku dengan hangat.

Kami berkecupan lama sekali, saya menggilas bibirnya dengan penuh nafsu, sesudah sebagian menit ia berkata,“terbukti perasaan gak dapat dusta ya.”

“iya…”

Saya tidak ragu lagi untuk memeluk dan mengecupnya malahan saya berani membatasi payudaranya dari dalam pakaiannya sementara ia juga membatasi dadaku, walhasil kami selesai nonton film lalu saya berkata,
Saya kecewa dan naik pitam tetapi ga dapat apa-apa, walhasil saya bilang,

“Terserah.”

Saya tak pernah ngehubungi ia selama sebagian hari, walhasil saya berdaya upaya normal saya tak mungkin masuk ke dalam kehidupannya, yah… saya walhasil menghubungi ia lagi dan kami ngobrol seperti lazim tanpa ada problem lagi dan pada suatu dikala ia mengajak saya makan di ayam wong Solo.

Saya sebagai orang yang lebih miskin dari ia terang tak menolak.

Kami pergi kesana terus kami mengorder meja di daerah bebas rokok yang sepi dan tertutup.

Sesudah selesai makan, saya dan ia yang duduk bersebelahan menumpahkan rasa kangen.

Kami saling mengecup, saling menggilas dan saling membatasi. Saya berkata padanya,

“Sari, saya pingin buat cupang di leher kau.”

“Coba aja!”

Saya mencoba menghisap lehernya untuk membikin cupang melainkan gagal, ia lalu ngakak sambil berkata,

“He… he… he… bukan gitu caranya, nih saya contohin”, ia mulai beraksi.

Entah bagaimana caranya ia mengisap, yang terang rasanya saya melayang-layang, saya hanya mendesah,

“Ah… ah…”“Tuh kan, dah merah”, kata ia sambil menunjuk leher saya.

“Dasar… Sari, kita pulang yuk.”

“ayuk.”

Sari lalu membayar makanan sementara saya segera menuju mobilnya. Sesampai di rumah, pikiranku kacau sebab cupang itu, saya segera nge-sms ia,

“Sari… saya kepingin cupangnya bukan di leher, saya pingin di dada, saya juga pingin buat cupang di dada kau.”Saya kaprah ia naik pitam, tetapi ia malahan ngebalas,

“Ramli, saya sayang ma kau, bila kau buat cupang di dadaku boleh kok, kecuali itu sebagai pedoman sayang saya, saya pingin 3d.”

“Apaan tuh 3d?”, balasku.

“Diputer, Dijilat trus Dicelupin.”

“Hah!! Beneran? Atau becanda nih?”

“beneran, masak saya main-main.”

“Kapan kau berkeinginan? Namun saya belum pernah lho sayang, apa semestinya pake pengaman?”

“Saya pinginnya ga pake, tetapi bila kau ragu lebih bagus pake aja, waktunya nanti aja bila ada kans, gimana?”

“Oke deh, met rehat ya sayang…”

“Rehat apaan saya kan semestinya nari di Hotel sayang, nanti bila saya ga balas berarti saya masih sibuk atau ada si ia sama saya.

”“Ya deh, met kerja ya sayang.”

Yah, ini merupakan jadwal harian ia, ia merupakan seorang penari Bali dan kadang ia nari di hotel kadang malahan hingga ke luar negeri.

Lama saya menunggu waktu itu, walhasil saya memperoleh kans pelatihan 4 hari.

Namun sebab kecerdikan panitia pelatihan itu cuma 3 hari.

Berarti saya cuma punya waktu 1 hari. Saya segera nge-sms ia,

“Dina… esok hari ga ngajarkan? Kita laksanakan agenda kita yuk?”

“ayuk, nanti saya jemput dimana?”

“Jemput saya ditempat pelatihan di Jalan Hayam wuruk.”

“Oke!”Besoknya saya telah menunggu ia di daerah pelatihan.

Sebagian menit kemudian ia tiba. Saya segera naik ke mobilnya dan ganti pakaian di dalamnya.

Saya yang udah nafsu lalu bilang,

“Kita berkeinginan kemana? ayuk”, Dina mengaplikasikan pakaian yang agak ngepres di badannya, sementara di komponen bawah ia cuma mengenakan kain pantai, dikala saya lirik terbukti ia tak mengunnakan apa-apa kecuali kain pantai dan tentu saja cd.

“Jangan gitu, kita makan dahulu yuk…”

Kami lalu makan, berikutnya kami menuju bungalow di Kuta, tetapi sebelumnya kami telah membeli makan siang terutamanya dulu.

Setibanya di kamar bungalow, ia lalu menutup pintu, saya yang udah nafsu segera menyerbunya. Ia lalu berkata,

“Ga jadi ah…”

“Trus kita ngapain kesini?”

“ngobrol sambil tiduran.”

“Nikmat aja”, saya segera menyerbu ia berupaya melepas pakaiannya dan kain pantainya, lalu ia bilang,

“Tabah dong sayang.

” Dina lalu mematikan lampu, lalu menutup korden yang tadi belum tertutup, saya memang udah nafsu liat kemolekan ia jadi ga memandang itu.

Alhasil saya menyerbu ia, kali ini saya tak menemukan konfrontasi berarti, ia udah siap.

Saya mengecup ia dengan nafsu, lalu melepas pakaiannya dan kain pantainya, tubuhnya sekarang cuma ditutupi BH dan CD. Ia lalu bilang,

“Ramli… Saya pernah dioperasi di payudara dahulu ada tonjolannya.”

BHnya saya lepas lalu saya menciumi payudaranya dengan lembut,

“ehm… ehm…”“Ramli… ka… mu… be….bbener lembut… ah ah ahh..”

Desahannya membikin saya bernafsu, lalu saya melepas bajuku dan celana ku sehingga saya telanjang di depan ia, CD diapun kulepas, ia lalu berkata,

“Ramli… pake kondom dahulu ya sayang…”

Ia lalu memakaikan saya kondom, saya yang masih lazim segera saja memasukkan punyaku ke dalam vaginanya.

Sebagian menit kemudian saya udah keluar, yah sebab saya belum pengalaman, ia melepas kondomku dan berkata.

“Ga apa-apa kan baru pertama.”

Belum berapa menit nafsuku naik lagi. Saya segera meraba payudaranya, kali ini ia lebih piawai ia lalu berkata,

“Ramli… kini kau di bawah ya, saya yang di atas.”

saya rebah di bawah, ia perlahan-perlahan memasukkan penisku ke vaginanya,

“uh… sedap sekali…”, saya mendesah.

Diapun mendesah,“Ah… ah… sedap sekali….ah… ah…”

Goyangannya betul-betul luar lazim, saya hingga merem melek, bodynya yang sintal bergoyang di atasku, saya membatasi payudaranya sambil kadang-kadang mengecupnya,

“ah… sedap sekali rasanya”, ditengah-tengah kenikmatan itu tiba-tiba ia mengejang dan melepaskan vaginanya sambil terengah-engah.

“Saya belum keluar kok dah selesai Dina?”

“Cape… dan kayanya dah keluar Ramli.”

Saya segera menindihnya dan memasukkan penisku ke vaginanya dan mengocoknya dengan kencang sebab tanggung pikirku, walhasil,

“ah…”

Spermaku tumpah, saya segera menarik penis ku keluar dan segera mengeluarkan spermaku di perutnya.

Dina lalu berkata,

“Kini gantian, saya yang belum keluar nih.”

“Yah…”Saya lalu memasukkan jariku ke vaginanya dan mengocoknya.

“ah..ah…ah…ah…”, Dina mendesah keras.

“gimana Din, sedap kan?”

“sedap banget… ah…ah… ah…”

Tiba-tiba ia memeluk saya erat sekali sambil mengecup dada saya sampai cupang.

Kamipun tertidur, dan sorenya pulang.

Kami masih kontak sebagian pekan, sampai ada satu kejadian jelek yang saya dan ia natural.

Kami nonton di bioskop berdua dan disudut seperti lazim, berikutnya kami berkecupan, lalu tanganku bergerilya ke selangkangannya, tangan ia malah juga sama.

Saya memasukkan tanganku ke vaginanya dan tangannya juga mulai mengocok penisku“Ah… ah… ah…” Desahan kami berdua berirama.

Alhasil tanganku terasa berair dan ia mengejang… Saya sama sekali belum keluar tetapi film keburu selesai.

Di perjalanan pulang walhasil kami gaduh, sebab ia mau pisah dariku dan kembali ke tunangannya. Saya berupaya membela diri tetapi ia telah berketetapan.

Alhasil kami berpisah dan saya tak pernah berjumpa dengan ia hingga walhasil ia menikah dengan tunangannya yang juga penari.

“Sari..putusin cowok kau ya, trus nikah ma saya.”

“Ga dapat mas, saya ma ia dah lebih dari pacaran kami dah lazim begituan, tinggal dibantenin aja kami dah jadi suami istri…”

Sahabat303 - Agen Sabung Ayam, Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Casino Online Terpercaya
  • Bonus Deposit 10% (Khusus Sportbook) Setiap Harinya
  • Bonus Deposit 10 % Khusus Tangkas Setiap harinya
  • Bonus Cashback Sport Up To 16%
  • Bonus Cashback Casino 2%
  • Bonus Rollingan Casino 0.7%
  • Bonus Cashback Sabung Ayam Up To 10%
  • Bonus Referral 2% Seumur Hidup
Kami juga memiliki layanan custumer service yang ramah dan profesional untuk melayani anda kapan pun.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar